Virandita's

Kamis, 01 Maret 2018

Tugas Siswa Hasil Karya Ilmiah Akhir Semester kelas 2
Maret 01, 20180 Comments

LAPORAN HASIL KEGIATAN BUDAYA GEMAR MEMBACA

“Keajaiban Istighfar”


DISUSUN OLEH:
                            NAMA    : AHMAD MUCHLIS
                            KELAS   : X IPS 2
                            NISN       :0016732853



KEMENTERIAN AGAMA
MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 (MODEL) LUBUKLINGGAU
TAHUN AJARAN 2017/2018
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN HASIL KEGIATAN BUDAYA GEMAR MEMBACA
“Keajaiban Istighfar







DISAHKAN OLEH :
Nama: Ahmad Muchlis
Kelas: X IPS 2




Mengetahui,                                                                Lubuklinggau, maret 2018
Kepala MAN 1 (Model) Lubuklinggau                    Guru Pembimbing




                                                                  
Taslim, S.Pd., M.Si                                          Hj. Dra. Nurbaiti
 NIP 197912052005011007                                         NIP 196309142014112001



KATA PENGANTAR

Puji Syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Kegiatan Budaya Gemar Membaca yang berjudul Keajaiban Istighfar dapat penulis selesaikan tepat waktu.
Laporan Kegiatan Budaya Gemar Membaca ini dibuat sebagai tugas akhir semester genap tahun ajaran 2017/2018 di Madrasah Aliyah Negeri 1 (Model) Lubuklinggau.
Laporan Kegiatan Budaya Gemar Membaca ini dapat selesai berkat bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis ucapkan terimakasih kepada,
1.      Bapak Taslim s,pd. M,si selaku Kepala MAN 1 (Model) Lubuklinggau.
2.      Ibu Hj. Dra. Nurbaiti selaku Guru Pembimbing.
3.      Orangtua penulis yang telah memberikan dukungan moril maupun materil.
4.      Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan, baik sistematika dan ejaan dalam penulisan. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaan laporan yang akan datang.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.










Penulis,


DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... i
KATA PENGANTAR....................................................................................... ii
DAFTAR ISI..................................................................................................... iii
BAB I : PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG KEGIATAN.................................................... 1
B.     KESIMPULAN..................................................................................... 1
BAB II : PEMBAHASAN
A.    Istighfar Sebagai Jalan Keluar................................................................ 2
B.     70 Istighfr Dari Gelimang Dosa ke Gemilang Cahaya........................... 9
BAB III : PENUTUP
A.    Kesimpulan............................................................................................. 11
B.     Saran....................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 13
LAMPIRAN



BAB I
PEMBUKA

A.    LATAR BELAKANG KEGIATAN
Kegiatan ini dibuat dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa gemar membaca buku didalam diri setiap siswa. Kebanyakan dari kita membaca buku fiksi yang hanya berisi cerita khayalan yang tidak pula mendidik dan tidak mengetahui makna dari buku yang kita baca tersebut, marilah kita membangun kegiatan gemar membaca buku non fiksi yang insya allah bermanfaat untuk kita semua.
Maka dari itu saya selaku siswa MAN 1 (Model) Lubuklingau ingin  menumbuhkan rasa gemar membaca ini dari dalam diri saya terlebih dahulu.
Judul buku yang saya resume kan yaitu “Keajaiban Istighfar” Allah Sswt telah mencukupi kita dengan karuniaNya yang sangat lengkap. Kira dikaruniai akal pikiran, pendengaran, penglihatan, kemampuan melakukan sesuatu, alam semesta yang bisa kita jadikan sumber hidup,air, buah-buahan, ladang untuk bercocok tanam, hasil laut dan lain sebagainya. Seluruhnya adalah nikmat yang telah allah saja yang menjadi hajat kebutuhan kita. Allah adalah satu-satunya oemilik,pengatur dan penggenggam segaka sesuatu yang ada di dunia dan di akhirat.
Hasil resume ini akan menjadi arsip Perpustakaan MAN 1 (Model) Lubulinggau, kegiatan resume ini akan masuk ke nilai-nilai praktek Bahasa Indonesia dan menjadi pengembangan diri kegiatan gemar membaca.

B.     KESIMPULAN
1.      Dengan adanya kegiatan gemar membaca ini bertujuan untuk  menumbuhkan rasa gemar membaca buku.
2.      Memahami tentang upaya menggapai makna kehidupan sejati
3.      Belajar mengambil hikmah dari kehidupan
4.      Kegiatan ini juga dibuat dengan tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menambah nilai Bahasa Indonesia serta pengembangan diri pada kegiatan gemar membaca buku ini.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Istighfar Sebagai Jalan Keluar
1.      Cara Mudah Meruska Diri
Kita semua mendambakan hidup bahagia, tapi mengapa kita justru berjumpa derita? Kita semua mengimpikan keberuntungan, tapi nyatanya malah acap mendapatkan kemalangan. Bukannya bergelimang anugerah, kita justru bergelimang musibah.
Jangan salahkan siapa-siapa dulu. Sebaiknya kita tengok hari-hari yang telah kita lewati. Sebab, kondisi kita saat ini sejatinyta buah dari rentetan perbuatan kita di masa lalu.
 “Musibah yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan yang kalian lakukan. Dan Allah memaafkan sebagian besar darinya” (QS. Asy-Syura[42]: 30)
a.       Efek Psikologis dan Spiritual
Selain yang tampak, ada pula yang tersembunyi. Ada akibat di alam lahir, ada pula akibat di alam batin. Akibat secara batiniah ini jauh lebih mengerikan daripada akibat dosa secara lahiriah. Dampak dosa pada tubuh di alam kasatmata ini jauh lebih ringan dari pada dampak burunya pada ruh kita di alam gaib. Sebab, alam gaib jauh lebih luas. Ia merentang panjang sejak dunia yang kita hadapi sekarang hingga akhirat kelak. Tubuh kita hancur bersama kematian, tapir uh kita ada terus dan berkembang sampai tingkat yang tak terhingga.

b.      Menggelapkan Hati
Setiap kejelekan yang kita lakukan akan berbekas dalam hati. Makin banyak kejelekan, makin kotor hati. Sehingga apabila kejelekan itu dilakukan terus menerus, hati bukan saja kotor, bahkan telah menjadi kotoran itu sendiri. “Hati mereka telah karat karena perbuatan yang mereka lakukan,” (QS. Al-Muthaffifin [83] : 14).
Hanya tobatlah yang bias encuci hitamnya kalbu itu. Cuma istighfarlah yang dapat membeningkan hati kembali. “Jika ia bertobat,” kata Nabi, “sadar, dan beristighfarlah, bintik tadi akan terhapus.

c.       Menganiaya Diri Sendiri
Selain berarti menjadi gelap, kata zhalim juga sering dimaknai aniaya. Sebab, dosa sebenarnya adalah bentuk penganiayaan diri. “Barang siapa melanggar hokum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah menganiaya dirinya sendiri,” (QS. Al-Baqarah [2]: 229).
Dalam Islam, fitrah manusia itu menerima dan menjalankan agama. Beragama adalah watak alami manusia. Siapa yang dipandang mendustakan agama dalam Al-Quran? Mereka yang menghardik anak yatim. Tak peduli pada orang miskin. Lalai dalam salatnya. Tidak mau saling menolong. (QS. Al-Maun [107]: 1-7). Bukankah semua itu bentuk penistaan apada fitrah manusia?
Ya, kebaikan bukanlah buatan manusia. Kebaikan adalah wujud hakiki manusia. Kebaikan itu fitrah-bakat bawaan setiap manusia. Dan agama diturunkan Tuhan untuk mengembangkan bakat bawaannya itu dan menuntunnya agar terhindar dari salah arah. Maka, yang meninggalkan agama tidaklah bahagia.

d.      Berat untuk Taat dan Sulit Menerima Petunjuk
Kita pun enggan berbuat baik dan sulit tersentuh oleh penderitaan orang lain. Reaksi kita semakin lamban terhadap kemungkaran di sekitar kita. Indra-indra moral kita mati rasa. Hancur sudah kesaaran kita akan norma-norma. Kita terjebak dalam rutinitas hidup. Maaf, kita seperti hewan peliharaan yang makan, minum, berhubungan seks, bekerja, dan mempertahankan diri. “Mereka mempunyai mata yang tidak digunakan untuk melihat. Mereka mempunyai telinga yang tidak digunakan untuk mendengar. Seperti binatanglah mereka, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai,” (QS Al-A’raf [7]: 179)

e.       Sulit Menimbah Ilmu dan Kekuatan Otak Menyusut
Ilmu adalah cahaya di dalam hati, dan maksiat memadamkan cahaya itu. Jika seseorang melakukan kebaikan, kebaikan itu akan mendorongnya untuk melakukan kebaikan yang lain. Pun jika seseorang melakukan keburukan, dia akan cenderung melakukan keburukan yang lain sehingga keburukan itu menjadi kebiasaannya.
Jika kita berpikir positif dan berbuat baik, maka jumlah sel-sel otak kita bakal berkembang biak. Semakin baik ilmu dan informasi yang kita olah dalam otak kita, semakin berkembanglah sel-sel sarafnya.
Sebaliknya, jika berpikir negative dan berbuat buruk, maka sel-sel otak kita menyusut. Sel-sel sarafnya bakal mengalami kerusakan secara bertahap seiring dengan lamanya aktivitas itu.
Bila maksiat itu pemadam cahaya ilmu dalam hari, dan dosa itu merusak otak, hardware di mana ilmu berada, maka istighfar tak bias ditunda lagi. Beristighfr berarti berhenti merusak diri.

f.       Terasing dan Terhina di Mata Tuhan
Lebih dari segalanya, maksiat melebarkan jarak antara kita dengan Allah. Kita terasingkan dari-Nya. Bahkan, kita pun bias terasingkan dari diri kita sendiri: “Dan janganlah kamu seperti oran-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik,” (QS. Al-Hasyr [59]: 19).
Kita pun lupa betapa kita butuh kepada Allah. Tuhan berfirman, “Wahai manusia, kalian semua membutuhkan Allah, sedankan Allah itu Mahakaya dan Maha Terpuji.” (QS. Fathir [35]: 15). Ya, semua manusia- secara universal, bukan hanya kaum muslim- membutuhkan bimbingan, arahan, ampunan, perhatian, cinta, kasih saying, kerelaan, rezeki, dan pertolongan dari Allah Swt. dalam setiap fase kehidupannya. Tapi, dosa dan maksiat telah memadamkan kesadaran itu.

2.      Merusak Diri: Merusak Alam
a.       Nikmat Berganti Bencana
Kalau kita perhatikan, tak da burung yang mau merusak sarangnya. Tak ada binatang yang mau merusak ekosistemnya. Ya, tak ada satu makhluk hidup pun yang melanggar hokum tuhan. Tapi bagaimana dengan manusia?
Ternyata hanya manusia yang tega menghancurkan habitatnya sendiri. Kitalah satu-satunya yang memiliki potensi untuk merusak keteraturan ala mini, bukan makhluk lain. Semua bergerak dalam keseimbangan. Hanya kitalah yang berani merusak keseimbangan itu. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41).
Ya, manusi yang gelap hatinya tidak mau menghargai alam. Kita yang tertutup oleh kepentingan sesaat sering merusak keseimbangannya. Kita lebih banyak berbuat zalim. Akibatnya persis seperti yang Allah firmankan, “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari ni’mat-ni’mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl [16]: 112)

b.      Merusak Diri Berarti Merusak Alam
Merusak diri kita berarti merusak alam semesta. Pada gilirannya, merusak alam semesta berarti merusak diri kita sendiri. Apa yang kita lakukan kepada alam akan kembali kepada kita. Kita melemparkan sampah secara sembarangan, dan alam membalas kita dengan berbagai penyakit. Kita kotori udara dengan asap kendaraan bermotor dan mesin pabrik. Alam menjawab kita dengan polusi. Kita berusaha menaklukkan alam dengan teknologi, dan alam dating dengan kekuatan yang tidak bis diatasi teknologi semaju apa pun. Naudzubillah!.

c.       Menyelamatkan Bahtera
Keseimbangan alam akan lestari bila kita menegakkan keadilan (lawan dari kezaliman), baik terhadap diri sendiri maupun dalam kehidupan social (QS Ar-Rahman [55]:7-9). Ada metafora indah dari Rasulullah. Bumi laksana sebuah perahu. Kita semua menumpang perahu itu untuk mengarungi samudra-kehidupan yang mehaluas. Kemudian, salah seorang penumpang hendak melubangi perahu itu pada dinding di dekat tempat duduknya. Penumpang yang lain diam saja. Toh orang itu hanya melubangi tempat duduknya sendiri. Lalu, Rasul bertanaya, “Tidakkah perahu itu akan karam?”.

3.      Rahasia Istighfar
Allah Swt. tidak saja mengingatkan betapa bahaya dosa dan kesalahan kita, tapi juga menegaskan bahwa jika kita menyadari kesalahan kita, bertobat, dan berbuat baik, Dia akan mengubah perbuatan destruktif yang kita lakukan menjadi menguntungkan. “Bertobatlah kalian semua kepada Allah wahai orang beriman agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur [24] :31).
Allah berjanji bakl menghapus semua akibat buruk dosa kita. Bukan itu saja. Dia akan mengganti seluruh keburukan dengan rasa damai, kefakiran dengan kecukupan, kebodohan dengan pengetahuan, kesesatan dengan petunjuk: … kecuali orang yang bertobat dan beraal saleh, maka mereka akan Allah gantikan keburukan dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang (QS. Al-Furqan [25]: 70)
a.       Menjemput Ampunan, Menghapus Akibat Dosa
Istighfar adalah memohon agar Allah mencurahkan maghrifat-Nya kepada kita. Ia berasal dari kata, “Ghafara al-syaib bi al-khidhab.” Ia menyembunyikan ubannya dengan celupan. Dari akar kata yang sama, lahir kata ghifrah, yang berarti sepotong kain yang melindungi keruung sehingga tak ternodai oleh minyak rambut. Perban untuk menutup luka disebut mughfar. Jadi, dari segi arti, maghrifah Allah atau ampunan-Nya adalah penghapusan akibat dsa, perlindungan dari siksa, dan penutup aib.

4.      Beristighfar dengan Benar
Suatu hari Abdul Wahid bin Zayd mendengar seorang laki-laki sedang beristighfar. Abdul Wahid menegurnya, “Hai, tahukah kamu apa makna istighfar?” “Tidak”, jawabnya. Maka Abdul Wahid pun menjelaskan:
“Ketahuilah bahwa istighfar adalah tobat, dan tobat adalah sebuah nama untuk enam makna: (1) menyesali dosa yang telah lalu, (2) tidak melakukan dosa lagi di masa dating, (3) menjalankan semua kewajiban antara engkau dan Allah yang pernah kau tinggalkan, (4) mengembalikan nama baik dan harta yang pernah kau ambil secara zalim dari orang-orang yang kau zalimi, (5) menghancurkan semua daging dan lemak tubuhmu yang tumbuh dari barang haram, sehingga tulang dan kulit kembali seperti semula, dan (6) memaksa badan untuk merasakan pahitnya ketaatan dan semua jenisnya sebagaimana ia pernah merasakan manisnya kemaksiatan.”

5.      Dari Musibah ke Muhasabah
Yaqzhah biasanya bakal diiringi tekad bulat (‘azm) untuk berpaling dari kebenaran kepada kebenaran. Tekad itu diikuti oleh fikrah (upaya memfokuskan pada sutu tujuan mulia). Fikrah akan memunculkn bashirah, yakni kejernihan pandangan batin dalam melihat kebenaran pada masa depan. Rangkaian kondisi spiritual itulah yang mengantarkan orang kepada tobat.
a.       Berubah dengan Musibah
Banyak jalan menuju yaqzhah. Kadang di dahului suatu peristiwa. Jalan yang paling banyak adalah jalan musibah. Jalan cobaan. Saat krisi, kita pun  menangis. Ketika masalah menindih, kita pun merintih kepada Allah. Kala jatuh melarat, kita baru bertobat.

b.      Berubah dengan Muhasabah
Ibnu Qayyim menyebutkan metode belajar sabar tidak beraksiat. Pertama, ketahuilah efek negative bermaksiat. Kedua, melulah kepada Allah. Ketiga, sadarilah nikmat Allah. Dialah yang menciptakanmu, memberimu rezeki, melindungimu, memberimu anugerah, memberimu kedudukan, serta menolongmu. Keempat, takutlah kepada Allah. Kelima, berusahalah untuk mencintai Allah. Keenam, muliakan dirimu. Jiwa yang mulia tidak akan berbuat maksiat, karena kemaksiatan akan rendahkan martabatnya. Ketujuh, hindari berteman dengan orang jahat.

B.     70 Istighfar Dari Gelimang Dosa ke Gemilang Cahaya
Kala tobat meyusul doa, Ia menghapusnya. Dosa musnah seolah-olah tidak pernah terjadi. Ketika tobat mengiringi perbuatan baik dan doa, ia bagaikan cahaya mahacahaya, kebaikan diatas kebaikan.
1.      Induk Istighfar
Rasulullah bersabda, “Induk istigfar adalah. “Ya Allah, Engkau Tuhanku. Tiada Tuhan selain Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu serta tetap perpegang pada sumpah dan janjiku semampu mungkin. Aku berlindung pada-Mu dari kejahatan yang kulakukan. Aku mengakui nikmat-Mu padaku dan mengakui dosaku. Ampunilah diriku. Tidak ada yang bias mengampuni dosa selain Engkau.”
2.      Istighfar Akhir Malam
Rasulullah bersabda, “Setiap sperempat malam terakhir, Tuhan turun ke langit dunia sambil berkata, ‘Siapa yang berdoa, Kukabulkan. Siapa yang meminta, Kuberi. Dan, siapa yang meminta ampun, Kuampuni.” (HR. Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah). Allah berfitrman. “Dan orang-orang yang beristighfar di akhir malam.” (QS. Al-Imran [3]: 17). “Dan dikhir malam mereka beristighfar.” (QS. Al-Dzariyat [51]: 18).


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Istighfarkdir. Doa  adalah doa. Doa adalah inti ibadah. Doa adalah senjata orang beriman. Doa adalah pengubah takdir. Doa pun menjadi kunci terbukanya pertolongan Allah. Karena itu, yang terpenting dari doa bukan urusan terkabul tidaknya doa itu. Yang terpenting dari doa adlah berubah tidaknya diri kita karena doa.
Lafadz Istighfar merupakan salah satu dzikir untuk memohon ampun kepada Allah. Biasanya setelah salat, umat muslim tidak akan melewatkan untuk mengucapkan kalimat Astagfirullah Hal Adzim tersebut.
Harapannya, Istighfar mampu menghapuskan dosa-dosa yang diperbuat. Ternyata, tidak hanya untuk memohon ampunan, kalimat dzikir yang sering diucapkan Nabi Muhammad ini juga memiliki banyak keutamaan lain jika diamalkan.
“Allôhumma anta robbî lâ ilâha illa anta kholaqtanî wa anâ ‘abduka wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’ûdzubika min syarri mâ shona’tu, abû’u laka bini’matika ‘alayya, wa abû’u bi dzanbî, faghfirlî fa innahu lâ yaghfirudz dzunûba illa anta”. (HR. Bukhari)
Sayyidul istighfar merupakan bacaan istighfar yang paling istimewa. Menurut Rasulullah, jika kita membaca bacaan tersebut pada siang hari dengan penuh keyakinan, lalu meninggal di sore harinya maka kita akan dimasukkan ke surga. Kalau kita baca waktu malam hari dengan meyakini maknanya, lalu esok paginya meninggal maka akan dimasukkan ke surga.

B.  Saran
Penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada para pembaca,  Saya menyadari dalam penulisan resume ini, masih banyak kekurangan maka dari itu, saya selaku penulis laporan kegiatan budaya gemar membaca ini mengharapkan kritik dan saran sebagai batu loncatan agar penulisan resume berikutnya akan lebih baik lagi. Semoga dengan adanya laporan kegiatan budaya gemar membaca ini teman-teman dapat lebih banyak mengetahui tentang Keajaiban Istighfar.


DAFTAR PUSTAKA

Muhammad salim, Ibnu. 2006. Keajaiban Istighfar. Jakarta selatan: Hikmah.






Reading Time:

@way2themes